Monday, 9 January 2012

Kalkulatif

"Apakah pantas hitung-hitungan dengan Tuhan?"

Lembar muhasabah. Sudah pernah dengar? Itu lho, semacam lembar evaluasi. Di sana Anda biasanya menulis bermacam amalan yang ingin Anda kerjakan beserta tanggal dalam satu periode tertentu. Matriks itu kemudian Anda isi dengan jumlah amal yang Anda kerjakan. Misalnya, tanggal 1 Januari Anda mengisi kolom 'shalat berjama'ah di masjid' dengan angka 5. Berarti pada tanggal itu Anda mengerjakan shalat berjama'ah lima kali di masjid (aslinya simpel kok, tidak serumit apa yang saya jelaskan). Setelah itu, Anda bisa mengevaluasinya bersama dengan kawan Anda.

 Nah, sebagaimana kebiasaan buruk saya untuk membuat hal simpel jadi ruwet, terbetik pertanyaan seperti yang saya tulis di atas. Saya jadi mulai bertanya-tanya, apakah saya menjadi mulai hitung-hitungan dengan Tuhan?

Begini contoh kasusnya. Saat saya menyelesaikan target yang saya buat, misalnya dalam seminggu saja, mendadak saya merasa tingkat kesalehan saya meningkat beberapa derajat. Saya merasa saya sudah menjadi seorang alim. Ada rasa puas diri yang tak bisa saya sangkal. Dan saya merasa saya menjadi bagian kepanjangan tangan Tuhan, bila saya boleh menggunakan perumpamaan demikian. 

Ada rasa saya lebih dari orang lain, karena saya berhasil menuntaskan "hitungan" amal saya dengan Tuhan lebih baik dari orang lain (minimal saya tahu bagaimana amal kawan sementor saya dan adik mentor saya). Jujur, ada perasaan superior jika saya berhasil menuntaskan lebih baik dari mereka semua. Dan ada satu lagi yang saya rasakan: obsesi.

Ya, fokus saya bergeser. Saya menjadi terobsesi untuk mengejar target. Minggu ini mesti segini, minggu depan mesti segitu. Terkadang saya menambah beberapa mark-up biar terkesan bagus. Amal tak mesti dikerjakan sempurna, yang penting awalnya sudah dimulai dan bisa dicatat ke dalam lembar muhasabah. Bisa ditebak, akhirnya saya menjadi malas dan membenci rutinitas itu. Rutinitas mengisi lembarnya, bahkan rutinitas beramalnya.

Sering saya merasa 'aman', dengan tilawah dan qiyamul lail beberapa kali saja, saya sudah merasa dekat dengan Tuhan. Merasa menjadi jagoan. Merasa pantas diberkahi. Merasa pantas untuk berleha-leha. Merasa rezekinya akan tetap mengalir biarpun saya tak berusaha. Merasa saya layak mendapat segala sesuatunya karena setitik amal yang sudah saya kerjakan, padahal itu pun tidaklah benar-benar sempurna pengerjaannya.
Yang lebih lucu, adalah kemudian saya mutung. Merasa bahwa metode demikian itu salah, dan saya menjadi korban lingkungan yang mencekoki saya dengan metode tersebut. Si Pandir, kemudian bertransformasi menjadi Si Apatis. Menyalahkan segala di luar dirinya, namun alpa berkaca letak kesalahan yang ada di dalam dirinya sendiri.

Begitulah, saya merasa tak pernah mudah untuk mengakui kesalahan sendiri. Masih sulit. Selalu saja saya ingin menempatkan diri saya sebagai "korban". Bahwa saya bersih dari segala kesalahan. Bahwa saya sudah cukup mengerjakan sedikit saja, dan merasa sudah cukup dengan Tuhan.

Rabbana zhalamna anfusana..

0 comments: