Sunday, 4 December 2011

Sore yang Random

Hari ini..emh.. tanggal berapa ya? 
*efek mahasiswa tingkat ga jelas, suka lupa tanggalan*

(Tanggal empat, Le.)
(Iya ane tahu, ada tanggalan cuy di desktop)
(Lho, kenapa sampeyan nanya?)
(Ini kan pertanyaan retoris, maksudnya mancing gitu biar ada yg respon..)
(Ck, sampeyan ini hobinya sudah gaharu cendana pula, sudah tahu bertanya pula)
(Biarin! Brisik amat sih ente!)
(Elhadalah, wani tukaran? He?He?)
(Ayo...?!)

*kita tinggalkan sejenak pertengkaran tidak penting di atas, mari kembali ke cerita*

Nah, begitulah. Sekarang sore tanggal empat. Di bulan Desember. Sebentar lagi ganti tahun. Sebentar lagi semester baru. Sebentar lagi saya nik... Eh, yang itu masih lama. Sebentar lagi saya lulus, hore! #dilemparbakiaksamaDadaRosada (KERJAIN KP-TA DULU WOY!). Yah, pokoknya sore yang menyenangkan seperti biasa. 




Saya sedang asyik mengupil ketika ada SMS masuk. Dari nomor sahabat yang saya kenal (Pay, saya ga bilang itu dari ente ya, nama saya rahasiakan, tenang saja). Saya buka SMS itu, bunyinya kurang lebih seperti ini: 

         "Aslm jo,,pakabra?Hehe..Gmn jo?udh siap nikah blm?"

Seketika jemari saya tersangkut di saluran Eustachius.
(itu lho, saluran yang menghubungkan anu dengan anu dengan anu. Paham?)
(Oh, dan jangan mengupil bila Anda membuka SMS)

Otak saya yang prosesornya selambat Windows 3.1 pun ngadat. Saya perlu waktu sejenak untuk mencerna informasi. Ini rasanya ada yang salah. Apa saya terlalu banyak mengonsumsi Momogi tadi pagi, hingga saya berhalusinasi sore ini? Tentunya itu tidak mungkin, efek paling mungkin dari konsumsi Momogi yang berlebihan adalah mencret. (sudah terbukti oleh kakak saya. Tenang Mbak, aibmu tidak saya buka di sini.)

Hal pertama yang terlintas adalah, Pay lagi high akibat terlalu lama di lab. Ya, apalagi? Kemungkinan dia terlalu banyak berkutat dengan mikroskop elektron,gen, coding DNA,primer, mikropipet, dan segala hal ajaib dari dunia biologi sel dan molekuler, dunia yang sampai sekarang saya sulit mengerti indahnya di mana. Dunia abstrak yang bagi saya sungguh... TER.LA.LU. #dilemparTheCellsamaRhomaIrama 

Hal kedua yang terlintas adalah, Pay sedang stres karena over populasi di ibukota. Begini, Kawan-kawanku nan Mulia Berakhlakul Karimah, setiap ada masa kelulusan universitas di Bandung, selalu ada Job Fair yang mengiringi. Bisa ditebak di mana kantor-kantor pusat yang menawarkan pekerjaan itu? Yak, seratus, Cigondewah! (tentunya itu bila Anda bekerja di pabrik tekstil). Ehm. Maksudnya di Jakarta. Fresh graduate berduyun-duyun mencari pekerjaan di sana. Orang-orang yang sekolahnya tidak selesai pun sebelas duabelas, berlomba mengadu nasib di ibukota karena tidak banyak yang bisa dikerjakan di desa-desa asal mereka. Akibatnya, Jakarta semakin sesak dan bertambahlah hal yang perlu diurus Fauzi Bowo. Anda tahu siapa dia? Dia adalah kolega dari Pak Dada Rosada, walikota Bandung yang juga -sepertinya- sibuk mengurus masalah mirip-mirip di kota Kembang. 

Hal ketiga yang terlintas adalah, Pay terlalu banyak menonton dorama, ditambah drama Korea. Anda tahu, asupan-asupan melankolis, romantis, seperti drama Jepang dan Korea bisa memacu tubuh Anda untuk mengeluarkan hormon unik yang dikenal dengan nama:  hormon Mantengin. Tubuh Anda akan cenderung mengalami rasa ingin tahu lebih jauh, mengenal lebih dekat para pemainnya, merasa terlibat di dalamnya, dan tentunya semakin sering mencari soft-copy-nya di FTP Rileks. Hormon mantengin ini kemudian membuat Anda terdistraksi dari apa yang semestinya Anda kerjakan, malah membuat Anda setia duduk di sofa di depan VCD player atau laptop, dan terhanyut dalam haru birunya suasana yang dibangun aktor-aktris berkulit dan bermata bening, seperti Yoon Eun Hye, Song Hye Kyo, Kyoko Fukada, dan Bora-Hyorin Sistar19. Eh, yang terakhir sih bukan aktris dorama, tapi penyanyi. Eniwei, efek dari hormon mantengin ini juga mampu memberi Anda rasa kecanduan, sehingga Anda merelakan hard disk Anda diisi penuh olehnya. Hormon ini membuat Anda lebih mudah meneteskan air mata ketika aktris-aktris bening itu ditinggal pergi, juga membuat Anda merasa ingin segera terbang dengan Merpati untuk membantu mengurai lara yang dialaminya.

Ehm. *goyang ulet bulu ala Sistar19*

Akhirnya, setelah mengeliminasi segala kemungkinan, saya pun ber-husnuzhan bahwa sahabat saya itu sedang iseng saja. SMS-nya sama sekali tidak berkaitan dengan asumsi yang saya bangun di atas. Saya pun membalas SMS-nya. Sent. Saya pun mengupil kembali dengan tenang.

Tak berapa lama, HP saya berbunyi. SMS masuk. Isinya tentang...

Sepertinya itu cerita di lain waktu, Kawan.. ;)


ps: Oh, perlu saya ralat, Mbak Sari sudah mengonfirmasi. Dia ternyata bukan diare, tapi alergi.

2 comments:

Mirna Nadia said...

semacam geli dan jijik ya ini. Pray for the eustachius, semoga upil tidak nyasar kesana. Amin.

Tejo Bawono said...

aman lah kalaupun nyasar mir, membran di sana kan bukan semi-permeabel. #naoon.