Sebuah perjalanan adalah untuk menemukan jawaban. Entah itu
untuk rasa penasaran atau sekedar kebutuhan untuk tahu. Mungkin itulah kedamaian
yang paling dicari: pemahaman. Pengertian mengapa ia harus jatuh, mengapa ia
harus tertawa, mengapa ia harus menangis, mengapa ia harus berbagi kasih.
Dan tak semua orang beruntung bisa menemukannya pada waktu
kehidupan yang sempit ini.
Terkadang, prosesnya sungguh membuat frustasi. Kebanyakan
pun berhenti mencari jawaban. Menerimanya sebagai suatu Tanda Tanya Agung yang
tak perlu dijawab. Menjalani keseharian dengan melupakan. Atau pura-pura lupa.
Kehidupan pun tak lebih dari rutinitas.
Bangun-makan-bekerja-ibadah-tidur. Ibadah pun rutin. Orang-orang menganggap
pencarian sudah usai. Mereka menganggap semua sudah terang dari kitab yang
dipercaya memuat semua jawaban. Padahal, dipelajari pun tidak. Dibuka apalagi,
jarang.
Berhenti mencari, berarti diam di zona nyaman. Meringkuk
ketika orang lain menggigil. Mengangkat bahu ketika ditanya pilihan. Menolak
halus ketika diajak beranjak. Yang penting selamat, buat apa repot-repot menyusahkan
diri. Terima apa adanya, buat apa ditanya lagi. Toh tidak ada yang menjawab.
Mungkin begitu pikirnya.
Tapi buat mereka yang tak kenal lelah mencari, mereka pun
tak bebas dari persoalan. Kenyataan tak pernah ramah buat mereka. Batin yang
resah, sementara mereka pun mesti bersinggungan dengan keseharian rutinitas.
Mereka hidup di dua dunia. Mereka adalah amfibi-amfibi yang terengah-engah,
terkadang lupa mesti bernafas dengan organ yang mana.
Pun yang bersemangat mulanya, tak selamanya menyimpan
semangat yang sama. Pencarian abstrak, tak tahu mulai dari mana, tak tahu ke
mana, tak tahu apa bahkan. Berangkat dari ketidaktahuan, berjalan bersama
ketidaktahuan, tak jarang pula berujung ketidaktahuan. Siapa sih yang mau
mencari terus sepanjang hidupnya?
Karena itulah, tak semuanya mau menjalani petualangannya
sendiri. Tak semuanya mau keluar mendobrak zona nyaman. Yang keluar mencari
pun, belum tentu ketemu. Sungguh
permainan lucu yang sudah ditetapkan. Mungkin Dia tertawa ketika orang-orang
berlelah-lelah membadut di sini.
Eniwei, ketemu atau
tidak, itu hanyalah orang itu sendiri yang tahu. Karena perjalanan, adalah
urusan personal dia sendiri. Dengan kedamaian. Dengan surga yang ia damba.
Dengan neraka yang ia hindari. Dengan dirinya. Dengan Tuhan. Dengan jawaban.
Satu hal yang mungkin masuk di akal: bila dimulai saja tidak, bagaimana bisa ketemu?
0 comments:
Post a Comment