Pagi !
Cerita ini saya tulis pertama di politikana.com,,(situs yang bagus,nambah lagi situs yang "wajib" saya sambangi). Saya rekap di sini supaya engga berceceran,, eniwei saya berencana membuatnya menjadi cerita bersambung, dan kalo udah beres satu episode, langsung saya update..hehehe
Selamat membaca !
==========================================
Di suatu bantaran kali . . .
Para buaya tengah riuh rendah. Wajar,buaya-buaya sepanjang bantaran kali sedang menggelar rapat akbar. Maka ditemuilah pemandangan yang tak lazim : buaya-buaya dari berbagai kasta, dari berbagai jenis,dari beragam warna dan corak tumplek bleg jadi satu. Mereka tengah membicarakan hal penting yang ditengarai dapat mengancam stabilitas dan eksistensi buaya ke depannya. Cukup membuat pusing hewan-hewan lain yang hendak minum, tak sedikit yang terpaksa memutar agak jauh, karena minum di dekat buaya-buaya yang sedang rapat, nyawa taruhannya.
“Tak bisa begitu,Bung Buaya Van Dan !! Ini subversifff!! “ teriak salah satu buaya yang tampaknya berasal dari kalangan elit. Tubuhnya dipenuhi corak luka, tanda ia buaya jagoan, atau memang buaya bodoh yang ceroboh. Ada semacam kesepakatan tak tertulis, semakin banyak bekas luka semakin mantaplah hegemoni buaya tersebut di kalangan buaya-buaya lain. Oh, FYI, dia adalah Buaya Sesat Darat. Biasa dipanggil BSD.
“Ini sudah kebablasan !! Dua ekor cicak dogol benar-benar mempermalukan saya ! Mereka berani memperkarakan saya ke Komisi Persatuan Hewan ,hanya gara-gara saya menginjak ekor mereka sampai putus ! Mentang-mentang mereka kepalanya ,huh!. Padahal sumpah, saya tidak sengaja! Kan saat itu saya sedang mau bertemu kerabat saya, Pak Beruang Menular. Salah sendiri mereka begitu kecil. Yang memutuskan ekor itu mereka sendiri, silahkan dicek! Saya punya bukti, saya punya saksi. “ terang BSD melanjutkan duduk perkaranya.
“Tenang Bung Sesat Darat. Kita di sini tengah mencari solusi. Reputasi Bung sebagai Buaya paling beringas seantero kali bisa ternoda gara-gara dua cicak tak tahu diuntung itu. Saya mengerti Bung, sesama buaya kita harus saling menjaga.” Buaya Van Dan sebagai pimipinan sidang mencoba menenangkan massa.
“Buaya, siapa kalian ?!! “ mendadak seorang buaya berteriak.
“Buaya Brotherhood!!! “ jawab hadirin yang lain serempak.
“Brotherhoood . . . !!?? “ suara buaya itu bergema lagi.
“Forever, forever,forever !” jawab sidang buaya kompak. Lugas.Tegas. Rupanya yel-yel selama masa pembinaan buaya masih belum luntur dari ingatan buaya-buaya yang hadir.
“Baik,baik,tenang-tenang, Saudara-saudara saya sesama buaya yang budiman. Kendalikan emosi Saudara-saudara. Kita di sini ingin mengambil langkah kongkrit yang elegan, agar keadaan tidak bertambah runyam. Sudah banyak saudara-saudara kita sesama buaya yang lain yang tersangkut KPH. Sepak terjang mereka tidak boleh dianggap remeh. . Kita harus memastikan KPH bubar untuk selamanya, untuk itu kita perlu upaya yang sistematis, terperinci dan seksi, sebagaimana kita ,para buaya, biasa bertindak. Setuju ?? ”
Para buaya yang hadir pun manggut-manggut.
“Baik, yang harus kita siapkan adalah seperti ini … seperti ini … “ Buaya Van Dan melanjutkan dengan suara perlahan
Lambat laun, seringai kepuasan mulai tampak di wajah-wajah buaya bantaran kali. Hari pun beranjak sore, dan dengan diingatkan perut yang lapar, rapat akbar buaya ditutup. Semuanya kembali ke pangkalan masing-masing. Mencari mangsa masing-masing.
*****
Sementara itu, di kantor Komisi Persatuan Hewan . . .
“Pak Cicak Kuricak, Anda berencana begadang malam ini ?” tanya Cicak Putih kepada koleganya.
“Tampaknya begitu Pak, saya masih harus menyelesaikan laporan ini. Para buaya bantaran kali itu sudah tidak bisa dibiarkan, mereka mengganggu kenyamanan bersama. Tingkah polah mereka semakin meresahkan. Mereka mulai meminta sajen tengah malam, katanya upah keamanan. Tak sedikit yang mulai mengganggu fasilitas umum bantaran kali ini, juga warga-warga yang hendak mencari minum di kali. Apa mereka pikir mereka yang berkuasa ?" Cicak Kuricak berdecak gemas memaparkan kekesalannya.
"Dan Pak Buaya Sesat Darat! BSD yang reputasinya sebagai buaya jagoan sudah santer terdengar di warga bantaran kali. Pak Cicak Putih masih belum lupa kan, siapa yang hendak ditemui Pak BSD? Saya mencium ada yang masalah yang lebih besar di sini. Tidak hanya kita, bahkan buaya-buaya yang lain dapat terancam.”
“Ah, saya tak begitu jelas melihatnya. Maklum mata cicak, lagipula saya sudah tua Pak Cicak Kuricak. Ekor ini juga belum tentu tumbuh lagi dalam waktu yang cepat. Tapi saya setuju dengan Pak Cicak Kuricak. Tingkah laku Pak BSD belakangan ini mencurigakan. Mana ada buaya lain yang rajin menyambangi Pak Beruang Menular ? Maksudnya kan semua tahu, Pak Beruang Menular sedang terkena penyakit menular.. Apa mungkin Pak BSD juga ikut terlibat, ikut tertular ?” Cicak Putih melontarkan kegundahannya.
“Entahlah Pak, semuanya masih gelap. Saya tak yakin dengan apa yang saya temukan, karena masih sedikit sekali. Tidak bisa dijadikan pertimbangan apa-apa . Pak Beruang Menular terbukti merugikan warga bantaran kali, itu pasti. Penyakitnya sudah tidak tertolong. Akan sangat berbahaya jika seluruh warga terkena penyakit akut dan kronis yang diderita beliau. Sayang, padahal Pak Beruang termasuk orang yang baik yang membantu mendanai Komisi ini.Tapi Pak BSD ? Saya sebenarnya salut dengan beliau karena dengan keberingasannya tidak banyak warga bantaran yang berani berulah. “ Cicak Kuricak menjawab.
“Ya, kita harus terus mencari kebenaran, Pak Cicak Kuricak juga saya, dan juga anggota Komisi yang lain. Kita sudah diberi amanah untuk memastikan bantaran kali ini damai sentosa. Saya takut penyakit Pak Beruang Menular bisa ikut tersebar ke seluruh warga bantaran kali. Mengenai Pak BSD, saya juga tidak bisa banyak berpraduga. Baiklah, apa yang bisa saya bantu?“
Kedua cicak itu pun bekerja hingga larut malam. Ditemani suara jangkrik dan hewan-hewan malam bantaran kali yang baru aktif. Situasi bantaran kali sedemikian malam itu begitu syahdu, masa tenang sebelum badai besar yang akan menerpa.
*****
(akhir episode 1)
Keesokan paginya..di Kantor Berita Animalia
"KANCIIIIILLLL!! KANCIIIILLL !! KANCIIIIIILLL! " teriakan Kepala Redaktur Kerbau memekakkan seantero kantor. "Hilang ke mana itu makhluk bah? Bodat." gerutu sang Kepala Redaktur.
Sepuluh menit kemudian,dengan tergopoh-gopoh Kancil pun datang ke hadapan bos besarnya yang tengah muntab. "Ha..hadirh Bos!!! A..adeh..perluh..apeh..Bos ? " Kancil tampak kelelahan karena berlari-lari dari ladang Pak Tani, baru beres mencuri timun.
"Kau tarik dululah itu nafas, kalaulah putus Bos-mu ini pula yang repot. Dengar, aku ingin kau meliput di wilayah buaya hari ini. Aku mencium ada kabar emas di sana. Dari kemarin kita dengar keluhan warga yang susah minum hmm? Katanya buaya-buaya sedang ada hajat. Ah, macam punya uang saja itu buaya, pakai menggelar hajatan segala. Bahkan Buaya Sesat Darat pun hadir. Kau tentu paham kah, perkembangan buaya lawan KPH ? Karena kau banyak akal, kau saja terus yang meliput. Lagipula, aku dengar kau sering pula meliput di wilayah sana. Paham kau,Cil?"
"Wah Bos, pegimane ye,, ane kagak maksud desersi Bos. Tapi Bos tentu paham, ane hampir jadi sajen tengah malem, Kliwon kemaren. Mereka kagak ngehargain kartu pers yang ane bawa. Asal nyaplok aja entu pade. Ane masih agak trauma Bos..." Kancil mencoba menjabarkan keberatannya.
"Ah, babi kau.. !"
"Bos, ane Kancil, bukan Babi. Suruh si Babi ngeliput aje gimane Bos?"
"Bukan itu maksudku..ah sudahlah..panggil si Babi sini! Bodat." Kepala Redaktur Kerbau tampak kesal.
"Oke, lanjutkan Bos.. Ane panggil si Babi yee. Lebih cepat lebih baik. Hehehe."Yes, ucap Kancil dalam hati.
*****
Sementara itu, di Rawa-rawa Rantas, Buaya Van Dan beserta ajudannya tengah mengadakan pertemuan rahasia dengan Jaksa Agung Bebek Van Der Week dan kolega-kolega jaksa bebek yang lain.
"Adinda Bebek Van Der Week, Adinda tentu tahu apa yang menjadi kegundahan Kakanda ini dan menyempatkan diri menemui Adinda. Kakanda hanya ingin, Adinda mengingat lagi tali persaudaraan yang telah kita jalin selama ini. Kami, telah banyak membantu Adinda Bebek, juga bebek yang lain dengan mengalihkan selera ke tikus-tikus sawah. Populasi bebek dapat terjaga berkat kiprah kami juga tho ?" Bung Van Dan mengawali pembicaraan.
"Week, memang benar Kakanda Van Dan. Kami, kalangan bebek sangat berterimakasih atas kebaikan Kakanda dan jajaran buaya selama ini. Tapi posisi Adinda sebagai jaksa ini nantinya bagaimana Kakanda ? Dan KPH ? Bagaimanapun, kami akan membebek saja ke keputusan Kakanda."
"Ah Adinda, semua bisa diatur. Jangan terlalu berkecil hati. Posisi Adinda aman. Kakanda memiliki rencana, yang butuh bantuan Adinda. Rencana besar. Rencana untuk menjatuhkan Komisi Persatuan Hewan. Apa Adinda puas melihat kinerja KPH selama ini ? Mereka seenaknya mengusik kenyamanan kita semua para abdi hukum bantaran kali. Seberapa sering Adinda mesti mengganti bebek-bebek yang ketahuan mbalelo gara-gara penyidikan KPH ? Tren ini mesti diberantas. " Buaya Van Dan menjawab.
"Week,week. Seperti Adinda bilang, Adinda ikut saja ke Kakanda. Adinda gemas juga dengan KPH. Kok bisa-bisanya Cicak yang memimpin. Apa Presiden Gajah Duduk sudah habis akal ya ?"
"Ah,tidak kok. Pak Presiden sehat, tapi mungkin terlalu banyak duduk saja, jadi kena angin duduk,hehehe. Nah, jadi begini Adinda . . . "
*****
Kembali ke Kantor Berita Animalia
Kesibukan kantor meningkat seiring mentari yang terbit. Tak henti-henti Burung Kutilang berbunyi mengabarkan berita terkini. Ditambah koor kompak Burung Tantina, Burung Cucakrawa dan Burung Perkutut, membuat suasana kantor berita semakin semarak.
Tapi, tampaknya tak semua bahagia. Dengan langkah gontai, seekor babi melangkah keluar kantor, lengkap dengan segala atribut jurnalistiknya.
"Ahaha, sukses brader ! Ane ragu ente bakal pulang dengan selamat, any last words ?" Kancil tertawa dari atas jendela kantornya.
"Jancuk kowe Cil, ra nggenah! Wis apik aku ditugaske ngeliput Aa Yam sing arep pegat karo bojone. Jangkerrr tenan!" Babi mengumpat Kancil.
"Itu rejeki ente Bi, ane sih kagak masalah gaji dipotong gara-gara kagak ngeliput. Sukses yeee..nyang bagus ngeliputnyee.." Kancil pun berlalu dengan gayanya yang biasa: penuh kemenangan, tengil, dan elegan.
"Jan tenanan iku bocah sitok." Babi menggerundel perlahan. "Haduh, piye iki. Yo wis lah, bismillah ae. Gusti, ampuni hamba-Mu ini bila ada khilaf selama hidup. Semoga Engkau menunjukkan jalan hidayah-Mu. Semoga Engkau menggugurkan hamba dalam khusnul khatimah..Amiin."
*****
Kantor Komisi Persatuan Hewan
Suasana kantor masih agak berantakan meski tidak mengurangi keindahan arsitektur kantor Komisi yang beraliran minimalis-terbuka. Hiruk pikuk hewan lalu lalang di tengah selasar kantor yang menjadi primadona saat ini di Republik Bantaran Kali. Semarak dengan kicauan, cericit, gurauan, raungan dan beragam suara hewan dari berbagai jenis. Komisi ini dikenal karena kegigihannya membela Hak Azazi Hewan (HAH) yang mencakup seluruh kalangan,terutama hewan kecil. Berbagai aduan diterima Komisi ini, untuk kemudian ditindaklanjuti. Belakangan, komisi ini tengah disibukkan oleh tingkah polah buaya yang dirasa semakin meresahkan.
Meski ada beberapa hewan yang mengatakan suara minor, tapi kredibilitas Komisi ini mendapatkan respon positif dari warga, yang otomatis menaikkan kredibilitas Presiden Gajah Duduk selaku pemangku tertinggi jabatan di bantaran kali. Dan sampai saat ini, Komisi masih dipercaya sebagai ujung tombak harapan penegakan keadilan. Apalagi sejak pemangku keamanan dipenuhi oleh jajaran buaya, dan bebek-bebek yang biasa membebek.
Seekor Merpati Pos, dengan setelan khasnya oranye-oranye, tampak mengepakkan sayap di kejauhan. Ia kemudian hinggap di pohon terdekat, menyapa Cicak Kuricak yang tengah berjemur,beristirahat karena habis begadang membuat laporan.
"Salam Pak Cicak Kuricak, apa kabar ? Kok tampak lelah sekali ? Ada surat untuk Anda." Merpati Pos, yang bernama Meripati PP membuka percakapan.
"Wah, baik Pak Meripati. Yah, biasa, rutinitas sehari-hari . . Oh begitu, surat dari siapa ?"
"Hmm, dari buaya Pak Cicak. Sebentar saya cek..hmm..nah, dari Buaya Van Dan."
Cicak Kuricak pun berdecak kagum.
"Wah, ada angin apa nih. Lho, ini suratnya juga buat Pak Cicak Putih." Cicak Kuricak bertanya.
"Oh, tampaknya begitu Pak Cicak, saya tidak memperhatikan dengan seksama.Yah, baiklah mungkin lain kali bisa mengobrol Pak Cicak. Saya masih harus mengantar surat, gara-gara gempa kemarin banyak warga bantaran yang kembali menulis surat. Mari Pak Cicak.. " Meripati pun pamit.
"Mari Pak.." Cicak Kuricak belum habis pikir tentang surat yang dipegangnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk beringsut pergi. Menemui rekan sejawatnya yang juga ditulis di sampul surat itu.
*****
(akhir episode 2)