Saturday, November 07, 2009

Barang Pinjaman

Malam !

Sedikit cerita, saat ini saya punya stok jaket yang bertumpuk di rumah. Jaket rohani, jaket dkm, jaket alhayaat, jaket ltq, jaket himpunan dan sebagainya. Tentu saya bingung juga, karena kebanyakan hanya menumpuk dan tidak saya pake. Rata-rata jaket itu juga bolak-balik, sehingga masa pakainya lebih lama. Tentu ini berarti bagi jaket yang lain, masa di dalam lemarinya pun lebih lama. Mau diberikan orang lain, rasanya sayang, karena ada nilai historisnya, kenangan, dan juga menggambarkan afiliasi terhadap sesuatu. Tapi, gara-gara jaket himpunan saya dipinjam oleh salah seorang kawan 2007 dan ga balik-balik, saya jadi mulai bisa melepas jaket saya satu persatu.

Awalnya, saya kesal juga, karena orang yang meminjam jaket saya memang tampaknya tidak niat mengembalikan. Tidak pernah SMS, tidak pernah telepon, tidak pernah menyapa kalo ketemu, tidak pernah menulis di facebook atau di manapun. Premis awal saya, memang orangnya tidak niat. Iseng-iseng saya coba menulis di wallnya baru-baru ini, dan apa respon yang saya terima ? Secara ga langsung saya disemprot : kenapa ga lewat sms aja sih, dan baru sekarang nanyain ? Saya sih cuma bisa mesem-mesem aja,, yee yang minjem siapa, kok ga ada kesadaran ngembaliin tho. Saya pun jadi males, dan tidak membalas wall itu sampai sekarang.

Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi, emang apa untungnya kalo jaket itu dikembaliin sekarang ? Lagipula saya sendiri juga 'cuti' dari kegiatan himpunan. Ga akan saya pake juga, lantas buat apa saya 'ngejar' minta buat mengembalikan jaket saya ? Hanya akan menumpuk di lemari ujung-ujungnya. Siapa tau dia lebih memerlukan, karena tidak punya jaket himpunan di lemarinya, atau karena alasan lain.

Saya jadi ingat, beberapa barang saya yang bilangnya dipinjam, nyatanya belum kembali sampai sekarang. Atau ketika saya tanyakan, ternyata lebih nyesek lagi karena sudah raib entah ke mana. Hihihi, kalo dilist banyak ah, saya juga males. TAPI, ternyata di kamar saya pun ada beberapa barang orang yang saya 'culik'. Nah lo, maling teriak maling kan jadinya ?! :D

Yah, setidaknya saya bisa belajar beberapa hal dari peristiwa di atas. Sebagaimana 'aturan emas' untuk memperlakukan orang seperti kita ingin diperlakukan orang lain, saya menarik beberapa poin terkait barang pinjaman:
  1. Barang pinjaman, apapun bentuknya, harus kita kembalikan. Kesadaran lah, malu-maluin dong udah gede masih ga tanggap lingkungan. Jangan menunggu yang punya mengingatkan, karena bagaimanapun, pihak peminjamlah yang paling bertanggung jawab.
  2. Jangan terlalu terikat dengan apa yang kita miliki, karena suatu saat ia bisa hilang. . . atau harus kita kembalikan. Hehehe, masa merasa hak milik sih, barang orang yang kita pinjam ?
  3. Belajar untuk menghargai apa yang kita komitmenkan, apa yang menjadi janji kita. Aturan kita meminjam seminggu, ya seminggu. Kecuali ada kebutuhan lebih lanjut, kan bisa ngomong dulu. Alasan "teman" tidak bisa menjadi legitimasi pengabaian janji kita.
  4. Jangan menunda-nunda waktu pengembalian, karena ujung-ujungnya suka lupa.
  5. Meminjam seperlunya, jangan berlebihan, dan
  6. Kalo bisa ga meminjam, ya jangan. Lebih baik diusahakan sendiri, kalo kepepet ya baru laksanakan . . .
Begitulah. Ingat-ingat lagi, siapa tau ada satu-dua barang kawan-kawan kita yang mungkin kita alpa untuk mengembalikan, padahal kawan kita itu lebih butuh dari kita. Mungkin harganya ga seberapa, tapi tentu yang paling tahu nilainya ya kawan kita itu sendiri. Selamat mengecek kamar masing-masing ! :)

Malam !


Monday, November 02, 2009

Kutipan

Malam !

Izinkan saya mengutip kata-kata seorang teman di politikana,

"...karena manusia itu tidak sempurna, kenal mau sebentar mau lama sama saja. tidak akan memupus kekurangan seorang manusia. tinggal niat dan komitmen untuk bersama2 menerima dan ridho pada kekurangan masing2 yang penting...
dan jelas niat meraih ridho Allah SWT. "

Ah, "nyundul" sekali gan, saya suka ini.
:D

Malam!

Darkest Days

These are the darkest days, I'd say.
I can't tell which way do I have to take
I can't tell, am I really ready to face the truth ?
But I do know one thing, I can't let you by my side this time.

It would make you hurt.
It could take you to the place where I couldn't meet you again.
But for some reasons now,
I see you've already gone far enough from me.

It's been wonderful
all the time together
Even if it cost a lot,
I was made to cheer up.

It's you, the one who touched me with your kindness
Warmed me with your smile.
You gave me strength
You showed me hope.

But then, I doubt myself.
I was afraid, it was too good to be true.
Was it just a false hope ?
Was it just a false strength ?

The time has passed anyway.
And I can't bear this doubt along our way.
It's my shame, my disgrace, my biggest fear.
And I'd really sorry, if I hurt you more than ever.

You've known my pain, but I don't know yours.
You've read me as bright as a day, but I haven't understand you since.
I've known nothing about you,
and I don't know how.

I've taken you into somewhere dangerous
and I blame myself for that
I can't take the risk,
the stake is too high.

I'm sorry for being such a jerk.
Since I can't say proper goodbye.
I left you in question,
but I feel you won't need my answer anymore.

So, live your own life now.
Find whichever path you have to take.
Find anyone who could give what you gave for me back then
Since I'm not capable to get along your side.

Thank you,
I guess I know which way I have to take
To continue my journey, about finding who I am.
For me, I'll take this lonely road.

Sunday, November 01, 2009

Internet dan Bapak

Malam !

Belakangan ini, saya berusaha membagi apa yang saya ketahui tentang berseluncur di dunia maya kepada Bapak tercinta,beliau tengah bernostalgia dengan menjadi seorang pembelajar lagi.

Rasanya cukup sering pertanyaan Bapak seputar kebiasaan anaknya yang --relatif--sering online. Mulai dari gadget, sampai cara penggunaan. Hingga, Bapak pun mulai berkenalan dengan dunia www, dan baru saja membuat email pertamanya kemarin, tentu dengan bantuan anaknya yang ganteng ini, hehehe.

Ternyata, proses transfer ilmu itu tak semudah yang saya bayangkan. Entah siapa yang salah, ternyata susah juga mengajarkan Bapak. Saya menemukan ternyata saya bukanlah seorang guru yang baik, dan saya sempat kesal sendiri, kok susah amat ya Bapak menangkap apa yang saya maksud, apa yang saya ajarkan. Seringkali, Bapak menanyakan hal yang sama berulang-ulang, membuat saya bingung sendiri, ini Bapak menguji apa memang benar kurang paham. Saya mengambil contoh, ketika saya dan Bapak membuat email pertama Bapak kemarin. Jarum jam menunjukkan pukul 22.00 ketika Bapak mulai membuka google, dan baru beres jam 1.30 keesokan harinya. Waduh, masa sih buat email aja lama banget ? Sampai-sampai saya ragu apa benar Bapak bisa beradaptasi dengan era digital yang begitu cepat ini dan agak menggerundel dalam hati..

Saya jadi teringat artikel yang pernah saya baca, entah siapa penulisnya, tapi artikelnya cukup "nendang" buat saya. Kisahnya tentang seorang ayah,anak, dan burung gagak. Kurang lebih seperti ini :

*****
Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran.

Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya, "Nak, apakah benda itu?"

"Burung gagak", jawab si anak. Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit kuat, "Itu burung gagak, Ayah!"

Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat, "BURUNG GAGAK!!"

Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal kepada si ayah, "Itu gagak, Ayah."

Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar- benar hilang sabar dan menjadi marah. "Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak, Ayah.....", kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama. "Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini," pinta si Ayah.

Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut. "Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya,
"Ayah, apa itu?" Dan aku menjawab, "Burung gagak." Walau bagaimana pun, anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayangku aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak."

Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si Ayah yang kelihatan sayu.

Si Ayah dengan perlahan bersuara, "Hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau telah hilang kesabaran serta marah."

Lalu si anak seketika itu juga menangis dan bersimpuh di kedua kaki ayahnya memohon ampun atas apa yg telah ia perbuat.
*****
Nah, ada yang sudah pernah baca ?

Saya yakin, bahwa saya ga pernah bertanya tentang email dan tetek bengeknya ke Bapak waktu kecil dulu (da belum ada), tapi saya pasti banyak bertanya hal yang lain dalam situasi yang mirip dengan apa yang saya alami sekarang. Pertanyaan yang diulang, pertanyaan yang mengesalkan hati, pertanyaan yang tak ada habisnya untuk memuaskan rasa ingin tahu, namun semuanya tetap dijawab dengan sabar dan lemah lembut oleh Bapak. Dalam ingatan saya, Bapak tidak pernah menghardik, membentak, apalagi memukul jika saya bertanya tentang sesuatu. Pun apabila saya sampai membuat Bapak kesal, saya tahu dari raut muka dan nada suaranya, itu pun masih menjawab apa yang saya tanyakan. Ah, air mata saya hampir meleleh begitu saya sampai bagian ini..

"Ya Allah, ampunilah dosa dan kesalahan kedua orangtuaku, rahmatilah dan sayangilah mereka, sebagaimana mereka sungguh-sungguh menyayangiku sewaktu aku kecil.."
Begitulah, bisa jadi kita memiliki gelar seabrek,reputasi sebagai aktivis,pekerja sosial atau apalah, memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, tapi seringkali kita tak mampur bersabar sedikit saja, ketika kita dihadapkan pada situasi di atas. Kita tak bisa berlaku birrul walidain kepada orang tua kita, yang jelas-jelas kita sangat berutang banyak kepada mereka. Kita tak bisa berlaku santun, bahkan untuk sekedar perkara yang remeh. Tak jarang, kita menghardik, kita membentak, bahkan mungkin --na'udzubillah -- sampai memukul orang tua kita. Beginikah balas budi yang bisa kita lakukan ? Ah, air mata saya benar-benar tumpah di bagian ini, hehehe.

Udahan dulu deh, saya sambung lain waktu.

Malam !

PS : Pak, saya sayang Bapak, Ibu juga.

Saturday, October 31, 2009

Paradoks

Malam !

Saya lupa, saya pernah membaca kisah ini di mana, tapi kurang lebih kisahnya seperti ini :

"Anda seorang petualang, dan bertemu seseorang dalam perjalanan. Anda menyapa orang itu dan ia pun mengangguk. Ia berkata , "Jangan percaya orang Kreta, mereka semua pembohong".

Anda pun bertanya,"Oh, baiklah. Ngomong-ngomong dari mana asal Anda ?"

Ia menjawab, "Kreta."

Nah, Anda menemukan hal yang berlawanan di sini, terkait validitas pernyataan orang tersebut. Apabila pernyataannya valid --yang berarti semua orang Kreta adalah pembohong-- , kita akan menemukan pertentangan arti, karena ia seorang Kreta. Berarti pernyataan orang tersebut tidak bisa dikatakan valid. Ia seorang pembohong, layaknya orang Kreta umumnya. Tapi, ini berarti pernyataan "orang Kreta adalah pembohong" menjadi tidak valid, lantaran ia seorang pembohong. Berarti ia berkata jujur. Nah, apabila ia berkata jujur, dan pernyataannya valid, kita akan kembali ke awal lagi. Mau diteruskan ? Saya anjurkan tidak, karena tidak akan bertemu jalan keluarnya...

Situasi ini disebut paradoks. Ya,,ibarat memakan buah simalakama lah, orang dulu sering bilang, walau sampai sekarang, saya masih belum tahu wujudnya seperti apa. Buahnya kok sadis banget bisa membuat orang kehilangan ayah atau ibu, hehehe.

Kembali ke situasi ini. Rasanya jamak terjadi di kehidupan kita. Kita dihadapkan kepada dua pilihan yang pasti --menurut kita-- akan bertentangan. Sebutlah kita punya calon A dan B. Kita pilih A, tentu B kecewa, dan demikian sebaliknya. Apa iya kita pilih dua-duanya ? Itu sih namanya kemaruk kawan, hehe. Eh, maaf mungkin contohnya kurang tepat. Ya, intinya sih seperti itu, saya yakin Anda paham. ;)

Lantas apakah tidak ada jalan keluar ?
Dalam situasi di atas, sebenarnya mudah saja.

Anda tak perlu ambil pusing pernyataan orang tersebut.

Percaya dengan apa yang Anda rasa, Anda lihat, Anda dengar, dan Anda yakini sendiri. Selebihnya, toh Anda sudah memilih. Daripada bingung memilih ? Golput masih haram lho, setahu saya... ;))


Malam !

Operet Bantaran Kali

Pagi !

Cerita ini saya tulis pertama di politikana.com,,(situs yang bagus,nambah lagi situs yang "wajib" saya sambangi). Saya rekap di sini supaya engga berceceran,, eniwei saya berencana membuatnya menjadi cerita bersambung, dan kalo udah beres satu episode, langsung saya update..hehehe

Selamat membaca !

==========================================

Di suatu bantaran kali . . .

Para buaya tengah riuh rendah. Wajar,buaya-buaya sepanjang bantaran kali sedang menggelar rapat akbar. Maka ditemuilah pemandangan yang tak lazim : buaya-buaya dari berbagai kasta, dari berbagai jenis,dari beragam warna dan corak tumplek bleg jadi satu. Mereka tengah membicarakan hal penting yang ditengarai dapat mengancam stabilitas dan eksistensi buaya ke depannya. Cukup membuat pusing hewan-hewan lain yang hendak minum, tak sedikit yang terpaksa memutar agak jauh, karena minum di dekat buaya-buaya yang sedang rapat, nyawa taruhannya.

“Tak bisa begitu,Bung Buaya Van Dan !! Ini subversifff!! “ teriak salah satu buaya yang tampaknya berasal dari kalangan elit. Tubuhnya dipenuhi corak luka, tanda ia buaya jagoan, atau memang buaya bodoh yang ceroboh. Ada semacam kesepakatan tak tertulis, semakin banyak bekas luka semakin mantaplah hegemoni buaya tersebut di kalangan buaya-buaya lain. Oh, FYI, dia adalah Buaya Sesat Darat. Biasa dipanggil BSD.

“Ini sudah kebablasan !! Dua ekor cicak dogol benar-benar mempermalukan saya ! Mereka berani memperkarakan saya ke Komisi Persatuan Hewan ,hanya gara-gara saya menginjak ekor mereka sampai putus ! Mentang-mentang mereka kepalanya ,huh!. Padahal sumpah, saya tidak sengaja! Kan saat itu saya sedang mau bertemu kerabat saya, Pak Beruang Menular. Salah sendiri mereka begitu kecil. Yang memutuskan ekor itu mereka sendiri, silahkan dicek! Saya punya bukti, saya punya saksi. “ terang BSD melanjutkan duduk perkaranya.

“Tenang Bung Sesat Darat. Kita di sini tengah mencari solusi. Reputasi Bung sebagai Buaya paling beringas seantero kali bisa ternoda gara-gara dua cicak tak tahu diuntung itu. Saya mengerti Bung, sesama buaya kita harus saling menjaga.” Buaya Van Dan sebagai pimipinan sidang mencoba menenangkan massa.

“Buaya, siapa kalian ?!! “ mendadak seorang buaya berteriak.

“Buaya Brotherhood!!! “ jawab hadirin yang lain serempak.

“Brotherhoood . . . !!?? “ suara buaya itu bergema lagi.

“Forever, forever,forever !” jawab sidang buaya kompak. Lugas.Tegas. Rupanya yel-yel selama masa pembinaan buaya masih belum luntur dari ingatan buaya-buaya yang hadir.

“Baik,baik,tenang-tenang, Saudara-saudara saya sesama buaya yang budiman. Kendalikan emosi Saudara-saudara. Kita di sini ingin mengambil langkah kongkrit yang elegan, agar keadaan tidak bertambah runyam. Sudah banyak saudara-saudara kita sesama buaya yang lain yang tersangkut KPH. Sepak terjang mereka tidak boleh dianggap remeh. . Kita harus memastikan KPH bubar untuk selamanya, untuk itu kita perlu upaya yang sistematis, terperinci dan seksi, sebagaimana kita ,para buaya, biasa bertindak. Setuju ?? ”

Para buaya yang hadir pun manggut-manggut.

“Baik, yang harus kita siapkan adalah seperti ini … seperti ini … “ Buaya Van Dan melanjutkan dengan suara perlahan

Lambat laun, seringai kepuasan mulai tampak di wajah-wajah buaya bantaran kali. Hari pun beranjak sore, dan dengan diingatkan perut yang lapar, rapat akbar buaya ditutup. Semuanya kembali ke pangkalan masing-masing. Mencari mangsa masing-masing.

*****

Sementara itu, di kantor Komisi Persatuan Hewan . . .

“Pak Cicak Kuricak, Anda berencana begadang malam ini ?” tanya Cicak Putih kepada koleganya.

“Tampaknya begitu Pak, saya masih harus menyelesaikan laporan ini. Para buaya bantaran kali itu sudah tidak bisa dibiarkan, mereka mengganggu kenyamanan bersama. Tingkah polah mereka semakin meresahkan. Mereka mulai meminta sajen tengah malam, katanya upah keamanan. Tak sedikit yang mulai mengganggu fasilitas umum bantaran kali ini, juga warga-warga yang hendak mencari minum di kali. Apa mereka pikir mereka yang berkuasa ?" Cicak Kuricak berdecak gemas memaparkan kekesalannya.

"Dan Pak Buaya Sesat Darat! BSD yang reputasinya sebagai buaya jagoan sudah santer terdengar di warga bantaran kali. Pak Cicak Putih masih belum lupa kan, siapa yang hendak ditemui Pak BSD? Saya mencium ada yang masalah yang lebih besar di sini. Tidak hanya kita, bahkan buaya-buaya yang lain dapat terancam.”

“Ah, saya tak begitu jelas melihatnya. Maklum mata cicak, lagipula saya sudah tua Pak Cicak Kuricak. Ekor ini juga belum tentu tumbuh lagi dalam waktu yang cepat. Tapi saya setuju dengan Pak Cicak Kuricak. Tingkah laku Pak BSD belakangan ini mencurigakan. Mana ada buaya lain yang rajin menyambangi Pak Beruang Menular ? Maksudnya kan semua tahu, Pak Beruang Menular sedang terkena penyakit menular.. Apa mungkin Pak BSD juga ikut terlibat, ikut tertular ?” Cicak Putih melontarkan kegundahannya.

“Entahlah Pak, semuanya masih gelap. Saya tak yakin dengan apa yang saya temukan, karena masih sedikit sekali. Tidak bisa dijadikan pertimbangan apa-apa . Pak Beruang Menular terbukti merugikan warga bantaran kali, itu pasti. Penyakitnya sudah tidak tertolong. Akan sangat berbahaya jika seluruh warga terkena penyakit akut dan kronis yang diderita beliau. Sayang, padahal Pak Beruang termasuk orang yang baik yang membantu mendanai Komisi ini.Tapi Pak BSD ? Saya sebenarnya salut dengan beliau karena dengan keberingasannya tidak banyak warga bantaran yang berani berulah. “ Cicak Kuricak menjawab.

“Ya, kita harus terus mencari kebenaran, Pak Cicak Kuricak juga saya, dan juga anggota Komisi yang lain. Kita sudah diberi amanah untuk memastikan bantaran kali ini damai sentosa. Saya takut penyakit Pak Beruang Menular bisa ikut tersebar ke seluruh warga bantaran kali. Mengenai Pak BSD, saya juga tidak bisa banyak berpraduga. Baiklah, apa yang bisa saya bantu?“

Kedua cicak itu pun bekerja hingga larut malam. Ditemani suara jangkrik dan hewan-hewan malam bantaran kali yang baru aktif. Situasi bantaran kali sedemikian malam itu begitu syahdu, masa tenang sebelum badai besar yang akan menerpa.

*****
(akhir episode 1)
Keesokan paginya..di Kantor Berita Animalia

"KANCIIIIILLLL!! KANCIIIILLL !! KANCIIIIIILLL! " teriakan Kepala Redaktur Kerbau memekakkan seantero kantor. "Hilang ke mana itu makhluk bah? Bodat." gerutu sang Kepala Redaktur.

Sepuluh menit kemudian,dengan tergopoh-gopoh Kancil pun datang ke hadapan bos besarnya yang tengah muntab. "Ha..hadirh Bos!!! A..adeh..perluh..apeh..Bos ? " Kancil tampak kelelahan karena berlari-lari dari ladang Pak Tani, baru beres mencuri timun.

"Kau tarik dululah itu nafas, kalaulah putus Bos-mu ini pula yang repot. Dengar, aku ingin kau meliput di wilayah buaya hari ini. Aku mencium ada kabar emas di sana. Dari kemarin kita dengar keluhan warga yang susah minum hmm? Katanya buaya-buaya sedang ada hajat. Ah, macam punya uang saja itu buaya, pakai menggelar hajatan segala. Bahkan Buaya Sesat Darat pun hadir. Kau tentu paham kah, perkembangan buaya lawan KPH ? Karena kau banyak akal, kau saja terus yang meliput. Lagipula, aku dengar kau sering pula meliput di wilayah sana. Paham kau,Cil?"

"Wah Bos, pegimane ye,, ane kagak maksud desersi Bos. Tapi Bos tentu paham, ane hampir jadi sajen tengah malem, Kliwon kemaren. Mereka kagak ngehargain kartu pers yang ane bawa. Asal nyaplok aja entu pade. Ane masih agak trauma Bos..." Kancil mencoba menjabarkan keberatannya.

"Ah, babi kau.. !"

"Bos, ane Kancil, bukan Babi. Suruh si Babi ngeliput aje gimane Bos?"

"Bukan itu maksudku..ah sudahlah..panggil si Babi sini! Bodat." Kepala Redaktur Kerbau tampak kesal.

"Oke, lanjutkan Bos.. Ane panggil si Babi yee. Lebih cepat lebih baik. Hehehe."Yes, ucap Kancil dalam hati.

*****

Sementara itu, di Rawa-rawa Rantas, Buaya Van Dan beserta ajudannya tengah mengadakan pertemuan rahasia dengan Jaksa Agung Bebek Van Der Week dan kolega-kolega jaksa bebek yang lain.

"Adinda Bebek Van Der Week, Adinda tentu tahu apa yang menjadi kegundahan Kakanda ini dan menyempatkan diri menemui Adinda. Kakanda hanya ingin, Adinda mengingat lagi tali persaudaraan yang telah kita jalin selama ini. Kami, telah banyak membantu Adinda Bebek, juga bebek yang lain dengan mengalihkan selera ke tikus-tikus sawah. Populasi bebek dapat terjaga berkat kiprah kami juga tho ?" Bung Van Dan mengawali pembicaraan.

"Week, memang benar Kakanda Van Dan. Kami, kalangan bebek sangat berterimakasih atas kebaikan Kakanda dan jajaran buaya selama ini. Tapi posisi Adinda sebagai jaksa ini nantinya bagaimana Kakanda ? Dan KPH ? Bagaimanapun, kami akan membebek saja ke keputusan Kakanda."

"Ah Adinda, semua bisa diatur. Jangan terlalu berkecil hati. Posisi Adinda aman. Kakanda memiliki rencana, yang butuh bantuan Adinda. Rencana besar. Rencana untuk menjatuhkan Komisi Persatuan Hewan. Apa Adinda puas melihat kinerja KPH selama ini ? Mereka seenaknya mengusik kenyamanan kita semua para abdi hukum bantaran kali. Seberapa sering Adinda mesti mengganti bebek-bebek yang ketahuan mbalelo gara-gara penyidikan KPH ? Tren ini mesti diberantas. " Buaya Van Dan menjawab.

"Week,week. Seperti Adinda bilang, Adinda ikut saja ke Kakanda. Adinda gemas juga dengan KPH. Kok bisa-bisanya Cicak yang memimpin. Apa Presiden Gajah Duduk sudah habis akal ya ?"
"Ah,tidak kok. Pak Presiden sehat, tapi mungkin terlalu banyak duduk saja, jadi kena angin duduk,hehehe. Nah, jadi begini Adinda . . . "

*****

Kembali ke Kantor Berita Animalia

Kesibukan kantor meningkat seiring mentari yang terbit. Tak henti-henti Burung Kutilang berbunyi mengabarkan berita terkini. Ditambah koor kompak Burung Tantina, Burung Cucakrawa dan Burung Perkutut, membuat suasana kantor berita semakin semarak.

Tapi, tampaknya tak semua bahagia. Dengan langkah gontai, seekor babi melangkah keluar kantor, lengkap dengan segala atribut jurnalistiknya.

"Ahaha, sukses brader ! Ane ragu ente bakal pulang dengan selamat, any last words ?" Kancil tertawa dari atas jendela kantornya.

"Jancuk kowe Cil, ra nggenah! Wis apik aku ditugaske ngeliput Aa Yam sing arep pegat karo bojone. Jangkerrr tenan!" Babi mengumpat Kancil.

"Itu rejeki ente Bi, ane sih kagak masalah gaji dipotong gara-gara kagak ngeliput. Sukses yeee..nyang bagus ngeliputnyee.." Kancil pun berlalu dengan gayanya yang biasa: penuh kemenangan, tengil, dan elegan.

"Jan tenanan iku bocah sitok." Babi menggerundel perlahan. "Haduh, piye iki. Yo wis lah, bismillah ae. Gusti, ampuni hamba-Mu ini bila ada khilaf selama hidup. Semoga Engkau menunjukkan jalan hidayah-Mu. Semoga Engkau menggugurkan hamba dalam khusnul khatimah..Amiin."

*****

Kantor Komisi Persatuan Hewan

Suasana kantor masih agak berantakan meski tidak mengurangi keindahan arsitektur kantor Komisi yang beraliran minimalis-terbuka. Hiruk pikuk hewan lalu lalang di tengah selasar kantor yang menjadi primadona saat ini di Republik Bantaran Kali. Semarak dengan kicauan, cericit, gurauan, raungan dan beragam suara hewan dari berbagai jenis. Komisi ini dikenal karena kegigihannya membela Hak Azazi Hewan (HAH) yang mencakup seluruh kalangan,terutama hewan kecil. Berbagai aduan diterima Komisi ini, untuk kemudian ditindaklanjuti. Belakangan, komisi ini tengah disibukkan oleh tingkah polah buaya yang dirasa semakin meresahkan.

Meski ada beberapa hewan yang mengatakan suara minor, tapi kredibilitas Komisi ini mendapatkan respon positif dari warga, yang otomatis menaikkan kredibilitas Presiden Gajah Duduk selaku pemangku tertinggi jabatan di bantaran kali. Dan sampai saat ini, Komisi masih dipercaya sebagai ujung tombak harapan penegakan keadilan. Apalagi sejak pemangku keamanan dipenuhi oleh jajaran buaya, dan bebek-bebek yang biasa membebek.

Seekor Merpati Pos, dengan setelan khasnya oranye-oranye, tampak mengepakkan sayap di kejauhan. Ia kemudian hinggap di pohon terdekat, menyapa Cicak Kuricak yang tengah berjemur,beristirahat karena habis begadang membuat laporan.

"Salam Pak Cicak Kuricak, apa kabar ? Kok tampak lelah sekali ? Ada surat untuk Anda." Merpati Pos, yang bernama Meripati PP membuka percakapan.

"Wah, baik Pak Meripati. Yah, biasa, rutinitas sehari-hari . . Oh begitu, surat dari siapa ?"

"Hmm, dari buaya Pak Cicak. Sebentar saya cek..hmm..nah, dari Buaya Van Dan."

Cicak Kuricak pun berdecak kagum.

"Wah, ada angin apa nih. Lho, ini suratnya juga buat Pak Cicak Putih." Cicak Kuricak bertanya.

"Oh, tampaknya begitu Pak Cicak, saya tidak memperhatikan dengan seksama.Yah, baiklah mungkin lain kali bisa mengobrol Pak Cicak. Saya masih harus mengantar surat, gara-gara gempa kemarin banyak warga bantaran yang kembali menulis surat. Mari Pak Cicak.. " Meripati pun pamit.

"Mari Pak.." Cicak Kuricak belum habis pikir tentang surat yang dipegangnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk beringsut pergi. Menemui rekan sejawatnya yang juga ditulis di sampul surat itu.

*****
(akhir episode 2)

Tuesday, October 27, 2009

Just Keep Your Mind Sharp :)

Morning !

Before I have my organic chemistry exam this afternoon, I need to distribute all the tension I felt. Blogging is one of good therapy to keep your mind sharp. :) Actually, I am so less prepared for this, and I guess I'll take the hard way as usual dead-liners do : CATCHING UP TO THE MAX, STUDYING LIKE CRAZY >_< ;;

There's no such thing as I could understand all the points in 5 sections, but hey we should give it a try, right ? ;)

Anyhow, I wonder why I can't learn from what I've done before. Like being a dead-liner. It's a habit you know, and a bad one. But I keep doing it all the time ! Of course, I'll regret but then I'll do it again and again. Maybe, I need to take some hard lessons, before I do understand how bad this habit could be.

The exam will take place at 4pm, and I hope there'll be some extraordinary miracle appear. ;)

Anyway, just keep your hope high young man, but keep your hard work and pray higher !